Cerita Dari Alam

Kamis  14 Juli 2011 tepatnya jam 05.30, sejauh mata memandang terlihat jelas hamparan sawah dan perkebunan yang dapat membuat mata ini segar diwaktu pagi. Tepatnya di Desa Sibebek kecamatan Bawang Kabupaten Batang Provinsi Jawa Tengah. Dibalik dinginnya pagi dan sejuknya udara di dataran tinggi Bawang, mata ini disajikan sebuah pemandangan yang mencengangkan, yaitu sebuah lukisan alam dari Sang Maha Indah berupa hamparan sawah dan sungai kecil sebagai nafasnya pematang sawah tersebut. Para petani yang dengan semangatnya menuju sumber penghidupan dengan wajah gembira berharap hari itu adalah hari keberuntungannya. Dengan bermodalkan cangkul dan sebuah sabit mereka berlomba menggali hasil alam yang telah Tuhan berikan sebagai sumber nafkah buat keluarga. Mencangkul….mencangkul….dan mencangkul…itu yang saya saksikan di pagi itu. Tak kenal lelah dan tak kenal terik matahari hanya demi sebuah rupiah.

Sapaan hangat ketika berpas-pasan dengan para petani yang dengan semangatnya mencangkul. “monggo mas…..” terdengar suara lembut dari seorang ibu petani yang sedang menanam bibit jagung. Betapa senangnya beliau ketika kami berkunjung ke kebunnya hanya untuk menyapa. “RAMAH” itulah sifat orang desa yang sesungguhnya, kami sadar bahwa mereka menganggap kami adalah orang kota yang katanya angkuh dan tidak sopan, tapi di hari itu kami menunjukkan bahwa tidak semuanya orang kota bersikap seperti yang mereka pikirkan. Kami belajar dari para petani yang tak pernah lelah dalam menjalankan sebuah pekerjaan. Tak hanya itu saja, kami juga belajar dari sikap ramahnya mereka. Saya hanya membayangkan jika saya jadi beliau, apakah saya bisa melakukan hal tersebut. Saya tahu, jika mereka disuruh memilih mereka pasti tidak ingin memilih nasib yang seperti itu. Inilah yang dinamakan hidup, Tuhan telah membagi nasib-nasib hambaNya. Tujuannya sudah jelas yaitu menjadikan manusia menjadi hamba yang bersyukur dengan apa yang sudah dikasih. “Ironis” itu kata teman saya, karena dibalik sumber daya alam yang melimpah ruah banyak warganya yang masih dalam garis kemiskinan.

Perjalanan kami berlanjut ke sebuah sekolahan kecil yaitu Madrasah Ibtidaiyah di pedukuhan Bentoel, kami melihat anak-anak kecil dengan seragam biru putih yang dengan semangatnya menyambut pagi itu dengan sekolah. Belajar, itulah tugas mereka. Tapi dibalik keceriaan mereka terdapat sebuah harapan agar sekolahan mereka menjadi sebuah sekolah yang membanggakan di daerahnya, dan berharap supaya apa yang mereka cita-citakan menjadi kenyataan. Kemiskinan, hal inilah yang menjadi sebuah ganjalan besar bagi para penerus bangsa yang ada di sekolah tersebut. Para orang tua hanya bisa menyekolahkan anak-anaknya sampai ke tingkat SMP itupun hanya segelintir anak yang mau. Padahal pada kenyataannya mereka sangat cerdas dalam segi akademik. Ironis memang, kemiskinan menjadi masalah besar yang dihadapi para warga pedukuhan Bentoel.

Waktu menunjukkan jam 08.30 WIB, disaat itulah kami harus pulang untuk melanjutkan aktivitas kami selanjutnya yaitu sarapan dan mandi. Di tengah perjalanan kami melihat para pak tani sedang asik-asiknya bermain-main dengan mainannya yaitu sebuah cangkul, semangat pagi itu bagi para petani untuk menggarap sebidang sawah. Kami menyapa dan menghampiri, seketika itu raut senyum dari semua petani yang bersahaja. Perbincangan dimulai dengan sebuah kalimat “niki bade ditandur nopo pak?” (ini mau ditanam apa pak?). “di tandur jagung mas” (ditanam jagung mas) seru seorang petani dengan semangatnya. “Telaten” itulah sifat dari seorang petani, dengan waktu 3 bulan mereka harus telaten dan sabar dalam merawat benih-benih rupiah mereka. Bagi kami yang awam, pekerjaan itu mungkin sangatlah sulit. Kami yang berjiwa muda harus bisa belajar dari keuletan dan kesabaran mereka. Karena dalam setiap usaha pasti akan mendapatkan hasil yang bagus, itu adalah janji Tuhan.

Dari perjalanan singkat kami ini, kami mendapatkan sebuah renungan sebagai bahan pegangan untuk hidup hari ini dan hari esok. Ketika kita dihadapkan dengan persepasi bahwa kehidupan didesa itu katanya terbelakang itu salah. Orangnya ramah-ramah, gotong royong, suka menolong, pekerja keras, ikhlas dalam segala hal, sederhana, itulah sifat asli dari orang-orang desa. Pikiran kita sudah terkontaminasi dengan budaya globalisasi yang menjadikan kita sebagai orang modern yang salah. Korban modernisasi yang tidak mengenal satu sama lain, hanya menguntungkan diri sendiri. Tetapi lihatlah ke desa yang kami singgahi, mereka tak kenal dengan semua itu, mereka hanya mengenal budaya orang desa. Terima kasih bapak-bapak petani, kalian telah menyadarkan kami betapa mudahnya dalam menjalankan hidup tanpa beban.
 

This entry was posted in Curhat, Motivasi by ameermuh. Bookmark the permalink.

About ameermuh

Seorang manusia biasa yang ingin selalu belajar dalam segala hal dan menjadikan hidup ini sebuah proses, proses pendewasaan, proses pembelajaran dan proses kehidupan. Kini aku masih selalu berharap agar Allah selalu menjadikan aku makhluk yang rendah hati, baik, jujur dan selalu berada di jalan yang benar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s