Perlunya Kita Bermazhab

Perkembangan dunia akhir-akhir ini, menyiratkan munculnya bentuk-bentuk spiritualitas baru sebagai jawaban dari ketidakpuasan terhadap agama-agama besar yang telah ada. Spiritualitas yes!, agama no!, itu yang mereka gemborkan. Walaupun sudah banyak contoh kegagalan dari ‘agama instant’ ini toh masih banyak juga yang mencoba-coba, baik itu yang sekedar mencari sensasi ataupun memang mencari jati diri. Dalam bentuk yang paling kecil dari deviasi negative dari pemahaman keagamaan yang paling kecil adalah munculnya aliran-aliran atau sekte-sekte sesat dalam agama-agama mapan di dunia.

Dalam Islam sendiri, banyak mazhab, aliran, thoriqot atau jalan keselamatan yang masing-masing menganggap dirinya benar. Lalu, bagaimana dan kepada siapa seharusnya kita bermazhab, agar kita yakin benar bahwa ajaran yang kita anut benar-benar bersanad sampai ke Rasulullah SAW?. NU mamberikan jawaban.

NU sebagai jam’iyah yang sekaligus sebagai ijtimaiyah, sejak awal berdirinya telah menjadikan paham ahlu sunnah wal jama’ah sebagai dasar berakidah dan menganut salah satu dari imam mazhab empat, yaitu Hanafi, Maliki, Syafi’I dan Hanbali sebagai pegangan dalam berfiqih. Hal ini bukan berarti selain dari emapat mazhab tersebut dianggap menyimpang, tetapi lebih pada pendapat-pendapat ke empat imam mazhab masih bisa dijadikan pegangan yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah dan bersumber dari Al Qur’an dan Hadits. Imam mazhab adalah para mujtahid yang teguh mengikuti para pendahulu (guru) mereka dari kalangan tabi’in, tabi’in mengikuti sahabat dan sahabat mengikuti Rasulullah SAW. Nabi bersabda, para sahabatku itu bagaikan bintang-bintang, apa saja yang mengikuti mereka, dia akan mendapat petunjuk (pada jalan yang benar).

Ini menunjukkan bahwa kelompok orang yang dianggap benar dalam beragama adalah para tabi’in, karena merekalah yang mengikuti sahabat. Dengan cara sambung menyambung seperti itulah umat Islam akan terjaga dari penyimpangan ajaran.
Oleh karena itu, di jaman akhir ini, bagi yang tidak ingin menyimpang dari ajaran agama, harus mengikuti ulama-ulama terdahulu (salaf) yang sanadnya jelas sampai ke Rasulullah. Ke empat imam mazhab itulah ulama salaf yang pendapat-pendapatnya bersumber dari Al Qur’an dan Hadits.

Memang terkadang terjadi khilafiyah (beda pendapat) diantara mereka, tetapi itu tidak membuat hilangnya rasa hormat dan tasamuh diantara mereka. Tanpa sikap apriori, menyalahkan pendapat lain atau sikap ekstrim menyesatkan dan mengkafirkan pendapat atau golongan lain. Luar biasa, sebuah sikap toleran yang patut diteladani oleh semua penganutnya. Tetapi, jika kita melihat banyak kejadian akhir-akhir ini sikap-sikap toleran pendahulu-pendahulu kita agaknya mulai memudar. Terlihat beberapa tayangan tv mengabarkan anarkisme atas nama agama meyeruak di berbagai daerah.

Jumlah ulama salaf sangatlah banyak, dan tidak mungkin kita ikuti semua, untuk itu jalan yang harus kita tempuh adalah mengikuti salah satu dari sekian ulama salaf yang ada. Dan empat imam mazhab mewakili mainstream dari pemikiran ulama salaf yang ada sehingga mengikuti salah satu mazhab berarti mengikut pendapat kebanyakan ulama salaf yang dijamin tidak akan tersesat dalam beragama. Sebagaimana sabda Nabi SAW, ikutilah sawadul a’dzam. mereka itu adalah kelompok besar ulama salaf yang dijamin oleh nabi tetap berada dalam kebenaran. Beliau juga bersabda, sesungguhnya Allah akan menyelamatkan umatku dari kesesatan selagi mereka mengikuti berkumpul (dalam suatu kelompok besar).

 

Sumber: Blog Abang ane

This entry was posted in Tulisan Bebas and tagged by ameermuh. Bookmark the permalink.

About ameermuh

Seorang manusia biasa yang ingin selalu belajar dalam segala hal dan menjadikan hidup ini sebuah proses, proses pendewasaan, proses pembelajaran dan proses kehidupan. Kini aku masih selalu berharap agar Allah selalu menjadikan aku makhluk yang rendah hati, baik, jujur dan selalu berada di jalan yang benar.

3 thoughts on “Perlunya Kita Bermazhab

  1. Diantara manfaat bermadzhab adalah bisa terhindar dari salah tafsir (terutama bagi awam) serta mengurangi perbedaan pendapat sehingga hanya terbatas kepada 4 perbedaan saja. Bayangkan jika setiap orang bebas berpendapat tentang sesuatu masalah/hukum dari ayat2 mutasyabihat, akan terjadi perbedaan pendapat yang sangat banyak yang p[ada gilirannya sangat menyulitkan bagi orang awam.

    Salam kenal,
    by: http://gunawank.wordpress.com/2011/03/15/tips-cara-mengatasi-sikap-dan-sifat-takabur/

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s